Budayakan Gerakan Literasi Melalui Komunitas Ngejah

Budayakan Gerakan Literasi Melalui Komunitas Ngejah

Budayakan Gerakan Literasi Melalui Komunitas Ngejah

Budaya literasi yang awalnya cukup asing di telinga masyarakat Indonesia

perlahan-lahan meredup. Hal ini dikarenakan sudah semakin  berkembanngnya tokoh yang membuat komunitas mengenai pegerakan literasi. Salah satunya adalah Komunitas Ngejah yang berpusat di Kampung Cicampaka, Desa Sukawangi, di sebuah desa terujung daerah Kabupaten Garut.

Berawal dari kegelisahan seorang pria bernama Nero Taopik Abdillah, saat melihat kampung halaman yang cukup tertinggal dari segi pendidikan, ekonomi, bahkan kecanggihan teknologi. Hingga, hatinya tergerak untuk mendirikan sebuah komunitas dengan berbagai kegiatan seperti gerakan kampung membaca dan pojok baca.

Komunitas Ngejah mulai mengerakkan literasi dimulai dari saung-saung

kecil dengan buku-buku yang telah disediakan untuk belajar masyarakat. Saung yang berukuran 4 x 5 meter yang kemudian dijadikan sebagai pusat dari program Gerakan Kampung Membaca. Sejak tahun 2010, kelompok ini bertujuan untuk membudayakan memperkenalkan literasi melalui buku.

“Sebelumnya, kita membangun komunitas ini dengan dana pribadi dan pergerakkan yang kami lakukan langsung kepada masyarakat. Perlahan-lahan bantuan dari pemerintah datang sehingga menambah fasilitas yang dibutuhkan oleh Komunitas Ngejah,” ujarnya saat dihubungi via seluler, (15/2/2019).

Lewat tagline yang selalu dijunjung untuk, ‘Belajar Berkarya Belajar Berbagi,

Belajar Bersama’. Bahkan untuk menciptakan ikhtiar menghidupkan denyut jantung kampung halaman melalui gerakan literasi.

Lebih lanjut, ia menceritakan bawa berdirinya komunitas ini, tidak berjalan sendiri, melainkan mendapatkan berbagai bantuan berupa jasa dari relawan yang kebanyakan dari mahasiswa, keluarga, dan rekan-rekan Opik. Melalui tangan-tangan relawan, komunitas ini semakin terkenal, terutama publikasi yang terbantu dari liputan media massa.***

 

Sumber :

https://vidmate.co.id/