Kajian Kelayakan Sosial Dan Ekonomi Sistem Pemanenan Air Hujan

Kajian Kelayakan Sosial Dan Ekonomi Sistem Pemanenan Air Hujan

Kajian Kelayakan Sosial Dan Ekonomi Sistem Pemanenan Air Hujan

ACCCRN Program supported by The Rockefeller Foundation and coordinated by Mercy Corps in collaboration with The Government of Semarang City, 2011

RINGKASAN KEGIATAN
Kajian kelayakan sosial dan ekonomi sistem rain harvesting digunakan untuk mengurangi kerentanan masyarakat terhadap perubahan iklim ini merupakan tahapan ketiga yang yang dilakukan dalam rangkaian kegiatan penelitian peluang penerapan sistem rain harvesting di Kota Semarang. Adapun, tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek sosial dan ekonomi dengan adanya sistem rain harvesting dan sistem pembiayaan yang tepat untuk rain harvesting di masyarakat.

Dalam mencapai tujuan tersebut, maka akan dilakukan beberapa tahapan penting. Tahapan pertama adalah menyusun kriteria wilayah studi yang didasarkan pada pemetaan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Setelah wilayah studi ditentukan dan survei lapangan selesai dilakukan, maka tahapan berikutnya adalah melakukan analisis terhadap kelayakan sosial ekonomi sistem rain harvesting. Analisis ini nantinya akan digunakan untuk mengidentifikasi mengenai kemauan masyarakat dalam membiayai dan merawat instalasi, cara pembiayaan yang tepat terkait instalasi, keuntungan sosial ekonomi, serta perbandingan biaya dan manfaat dalam menerapkan teknologi rain harvesting ini. Selain itu, telah dilakukan pula beberapa kali Focus Group Discussion untuk mensosialisasikan sistem rain harvesting ini kepada pihak kelurahan yang menjadi wilayah studi maupun pihak swasta. Selain itu, FGD ini juga bermanfaat dalam rangka menjaring aspirasi mereka untuk bersedia ikut terlibat pada penerapan sistem RH di Kota Semarang.

Ringkasan Temuan

  1. Setelah dilakukan pemetaan terhadap kondisi sosial dan ekonomi, maka diperoleh 9 kriteria kondisi sosial ekonomi. Dari masing-masing kriteria tersebut, dipilih masing-masing satu kelurahan yang dianggap mewakili kondisi sosial ekonomi (dengan didasarkan atas pertimbangan tertentu), dimana akhirnya diperoleh 9 kelurahan yang menjadi wilayah studi, meliputi Kelurahan Tandang, Wonosari, Mangunharjo, Bandarharjo, Bendan Dhuwur, Miroto, Candi, Pudakpayung, dan Tambakaji.
  2. Terkait dengan kelayakan sosial ekonomi dalam sistem rain harvesting ini, maka dilihat dari segi sosialnya, dapat dikatakan sistem RH layak diaplikasikan di Kota Semarang. Namun, jika dilihat dari aspek ekonomi, sistem RH secara individu hanya layak untuk menggantikan air dari sumur yang tidak menggunakan pompa listrik dan sendang yang diperoleh dengan berjalan kaki, sementara sistem RH secara kelompok layak untuk menggantikan sumber air yang berasal dari PDAM, sumur, dan sungai yang berjalan kaki.
  3. Mekanisme pembiayaan yang diinginkan oleh lebih dari 50% masyarakat di Kota Semarang adalah hibah dana pembangunan, tetapi masih terdapat peluang untuk menerapkan iuran kelompok sebagai bentuk pembiayaan terhadap rain harvesting.
  4. Lesson learned dalam penelitian ini adalah pengetahuan mengenai sistem rain harvesting yang perlu ditrasfer melalui berbagai mekanisme pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan dari sistem rain harvesting ini dapat dilakukan oleh kelompok swadaya masyarakat (KSM).

Baca Juga :