Kemampuan dasar dalam perancangan SIA

Kemampuan dasar dalam perancangan SIA

Kemampuan dasar dalam perancangan SIA

Untuk bisa merancang dan melakukan analisis SIA, maka seseorang memerlukan kemampuan logika akuntansi, konsep peracangan DBMS, dan kemampuan menerjemahkan logika akuntansi kedalam konsep perancangan DBMS.

2.1 Logika Akuntansi.

Logika dasar dari akuntansi adalah persamaan akuntansi, yaitu aset = kewajiban + modal. Persamaan dasar inilah yang mendasari penyusunan laporan laba/rugi, perubahan modal, dan neraca yang merupakan hasil akhir dari SIA.

Selain persamaan akuntansi, perlu dipahami juga aliran data dari transaksi, jurnal, buku besar, neraca saldo, hingga menjadi laporan laba/rugi, perubahan modal, dan neraca.

2.2 Perancangan DBMS

Tahapan awal dalam perancangan DBMS adalah penentuan Entitas, Atribut, dan Relationship. Ketiga hal ini merupakan dasar perancangan database dan akan sangat dipengaruhi oleh business rule.

Dalam perancangan DBMS untuk membangun aplikasi SIA, maka business rule adalah segala macam kebijakan akuntansi, pengendalian akuntansi, dan sistem akuntansi.

Setelah Entitas, Atribut, dan Relationship ditentukan, maka tahap selanjutnya adalah merancang ER-Diagram. Setelah merancang ER-Diagram, tahap selanjutnya adalah melakukan normalisasi.

Setelah melakukan perancangan database, maka tahap selanjutnya adalah pembuatan query. Query ini digunakan untuk mengolah data-data yang tersimpan dalam table-tabel sehingga menghasilkan informasi. Bahasa yang digunakan untuk mengolah query adalah SQL.

3. Penerapan Logika Akuntansi dalam DBMS

3.1 Alur Proses Akuntansi

Skema akuntansi berbasis access

3.2 Chart of Account

Chart of Account sangat berguna dalam pembuatan query untuk menghasilkan laporan keuangan. Chart of Account ini merupakan satu dari 3C dasar pembangunan SIA (Chart of Account, Currency, Calendar).

Secara umum, akun dikelompokkan dalam lima kategori yaitu, Aset, Utang, Modal, Pendapatan, dan Biaya. Kelima akun ini memiliki kode induk akun, dalam modul ini, Aset diawali dengan 1, Utang 2, Modal 3, Pendapatan 4, dan Biaya 5. Pengelompokan akun dalam grup ini, akan memudahkan pembuatan query untuk menghasilkan laporan keuangan.

Artikulasi laporan keuangan

3.3 Subsistem SIA

Dalam SIA, Subsistem SIA sangat berguna dalam efisiensi input data transaksi (apalagi jika transaksinya berulang & frekuensinya tinggi). Selain itu, subsistem ini bisa menghasilkan laporan yang berdiri sendiri dan berguna untuk pengambilan keputusan.

13

Berikut contoh Subsistem SIA di perusahaan ritel.

Subsistem ini dapat digunakan sebagai dasar pembuatan modul aplikasi SIA. Sebagai contoh, dari Revenue Cycle bisa dibuat modul penjualan dan cash receipt. Modul penjualan dan Cash Receipt ini digunakan untuk departemen penjualan. Bagian entri data, bertugas mengentri data transaksi penjualan, dan akuntan melakukan pengecekan piutang yang jatuh tempo, memposting jurnal terkait revenue ke modul buku besar. Hasil dari entri data transaksi di bagian penjualan, nantinya bisa menghasilkan laporan penjualan dan bisa diintegrasikan dengan subsistem lainnya untuk menghasilkan laporan keuangan.

3.4 Input Data

Untuk efisiensi & efektifitas penginputan data transaksi yang sifatnya berulang dan frekuensinya tinggi, maka SIA harus dirancang sesuai dengan trasaction cycle yang ada dalam perusahaan. Berikut contoh analisis perancangan SIA dalam contoh perusahaan ritel. Untuk revenue cycle, SIA harus bisa menampung data No Invoice, Tanggal Transaksi, Nama Barang, Jenis Barang, Jumlah Barang, Harga Jual, dan Jenis Pembelian Tunai/Kredit. Bila data-data tadi dibuat dalam tabel, maka hasilnya adalah:

Tabel Penjualan

No InvoiceTanggal TransaksiNama BarangJenis BarangJumlah BarangHarga JualTunai/Kredit
11/xx/1112/12/12BukuAlat tulis103000Tunai
11/xx/2212/12/12PensilAlat tulis52500Tunai
12/xx/1112/12/12LifebuoySabun mandi15000Kredit

Tabel penjualan diatas masih belum memenuhi bentuk normal kedua (2NF) dan masih terdapat redudansi data. Oleh karena itu, tabel penjualan ini perlu dinormalkan. Hasil normalisasinya adalah sebagai berikut:

Tabel Penjualan

No InvoiceTanggal TransaksiKode BarangJumlah BarangHarga JualTunai/Kredit
11/xx/1112/12/121A10Rp3000Tunai
11/xx/2212/12/121B5Rp2500Tunai
12/xx/1112/12/122 S1Rp5000Kredit

Tabel Sediaan

Kode BarangNama BarangJenis BarangJumlah BarangCostSupplierAlamatSupplier
1ABukuAlat tulis10000Rp1000KokoJogja
1BPensilAlat tulis200000Rp2000AlvaBatam
2SLifebuoySabun mandi30000Rp4000AnjarJakarta

Setelah tabel penjualan memenuhi bentuk normal (tabel sediaan belum), maka tahap selanjutnya adalah membuat otomatisasi penjurnalan, sehingga setiap kali terjadi penjualan, end-user hanya perlu mengentry data kedalam tabel penjualan, tapi secara otomatis penjualan akan bertambah seiring dengan bertambahnya kas/piutang. Cara mengotomatisasikannya adalah (dalam Microsoft Access), menambahkan satu field tersembunyi yang diberi default value ‘kode akun penjualan’ dalam chart of account. Kemudian, mengubah field tunai/kredit sehingga hanya berisi pilihan kas/piutang. Bila transaksi penjualan selalu tunai, maka field ini diperlakukan sama dengan field kode akun penjualan yang tersembunyi, bedanya field ini diisi dengan kode akun kas.

Selain mencatat penjualan dan kas, sistem penjualan yang terintegrasi dengan sediaan akan secara otomatis juga mencatat pengurangan sediaan dan cost of good sold.

Sumber : https://uptodown.co.id/