Siswa Terlibat Tawuran, Bupati Bogor Bakal Berikan Sanksi Sekolahnya

Siswa Terlibat Tawuran, Bupati Bogor Bakal Berikan Sanksi Sekolahnya

Siswa Terlibat Tawuran, Bupati Bogor Bakal Berikan Sanksi Sekolahnya

Bupati Bogor Nurhayanti menyetujui sanksi pembatasan kuota penerimaan siswa

atau penurunan status akreditasi bagi pihak sekolah yang anak didiknya terlibat tawuran.  Hal itu dilakukan karena merupakan bagian dari memenuhi hak anak, yaitu hak aman dan nyaman dari lingkungannya, baik di sekolah ataupun di rumah.

“Kita harus berkomitmen untuk memberikan atau memenuhi hak-hak anak dan saya setuju apabila ada sanksi bagi pihak sekolah yang anak didiknya terlibat tawuran pelajar,” ujar Nurhayanti kepada wartawan, Senin (24/9/2018).

Menurutnya, fenemona tawuran pelajar maupun anak menjadi korban kekerasan

dalam rumah tangga (KDRT) harus diantisipasi oleh semua pihak.

“Kita tak bisa menyalahkan begitu saja, tetapi kita semua juga harus ikut bertanggungjawab dan melakukan antisipasi, seperti polisi goes to school, MUI goes to school dan lainnya. Dinas pendidikan juga harus memberikan ekstrakulikuler tentang budi pekerti agar anak tidak menjadi korban kekerasan KDRT atau sesama pelajar,” terangnya.

Sebelumnya, Ketua DPRD Kabupaten Bogor Ilham Permana melontarkan pendapat, tidak hanya siswa yang terlibat tawuran yang harus diberi pendidikan moral, tetapi juga tenaga pendidiknya.

“Dengan pendidikan moral kepada siswa dan guru yang dilakukan oleh MUI atau polisi, saya berharap bisa menurunkan angka tawuran pelajar. Agar ada efek jera saya juga menyetujui apabila Bupati Bogor Nurhayanti memberikan sanksi kepada pihak sekolah yang anak didiknya terlibat tawuran,” ucap Ilham.

Sementara itu, Koordinator Wilayah Bogor Komnas Perlindungan Anak Adriana Eko Susanti

menjelaskan, terjadinya tawuran pelajar karena adanya salah pola asuh.

“Pelajar yang melakukan tawuran itu karena ada ketidakpuasan dalam pola asuh, baik di dalam atau di luar lingkungan keluarga. Agar pelajar ini tidak mencari ketidakpuasannya dengan melakukan tawuran. Saya menyarankan agar merena diikutkan dalam kegiatan ekstra kulikuler, seminar, konseling atau therapy,” jelas Adriana.

 

Sumber :

https://www.kakakpintar.id/